Lestarikan Tradisi, Kota Payakumbuh Gelar 'Silek Festival' 2019

Lestarikan Tradisi, Kota Payakumbuh Gelar 'Silek Festival' 2019

PAYAKUMBUH,(Forletnews.com)---Bagi masyarakat minang tradisi bersilat (Silek) telah menjadi warisan turun temurun yang dilestarikan. Seni beladiri masyarakat Minangkabau itu telah berkembang menjadi pentas seni pertunjukan yang dipertontonkan kepada banyak khalayak. Untuk melestarikan silat, Pemerintah kota payakumbuh akan menggelar Silek Festival yang akan digelar pada 26-28 Agustus 2019.

Silat atau Silek diturunkan turun temurun dari generasi ke generasi sebagai ilmu beladiri atau "pagar diri" untuk anak laki-laki. Konon, masyarakat Minangkabau memiliki tabiat suka merantau semenjak beratus-ratus tahun yang lampau. Dengan silat, para perantau memiliki keteguhan dan bekal yang baik untuk menghadapi alam kehidupan.

Kepala Disparpora kota payakumbuh Dra.Hj.Elfirza Zaharman M.Si yang diwakili oleh Kabid Kebudayaan Nirdawati.S.Sos menyebutkan, Silek Festival (PAS) 2019 merupakan festival kedua yang digelar oleh Pemerintah kota payakumbuh. Tahun lalu, SAF diusung dengan tema “Panjapuik Piutang Lamo” yang fokus pada upaya membangitkan semangat komunitas seni dan budaya untuk mengekplorasi silat dalam pertunjukan mereka. Tahun ini rangkaian program PAS fokus pada konsep Arsip dan Dokumentasi, dengan tema “Sapakaik Mangko Balega”.

"Konsep arsip dan dokumentasi ini diangkat mengingat provinsi Sumatera Barat terkhusus kota payakumbuh masih belum banyak melakukan pengarsipan dan pendokumentasian pengetahuan terkait silek. Kita berusaha menghimpun kembali seluruh pengetahuan tentang silek, mengingat silek sebagai kekayaan budaya di Minangkabau telah berkembang ke daerah lain di Indonesia, negara-negara Melayu, juga ke sejumlah negara lain di dunia,” ujarnya kepada forletnews.com.

Menurutnya pendokumentasian tersebut penting karena silat memiliki nilai-nilai keluhuran yang terkandung dalam basis adat Minangkabau.

Sementara Ketua Panitia pelaksana Alek Silek (PAS) Rothman S.Dt.Paduko Basa Pandeka Sago mengharapkan, dengan perhelatan tradisi silat ini bisa terjaga dan semakin populer di kalangan masyarakat Minang itu sendiri bahkan dikenal luas secara nasional dan mancanegara.

"Ini adalah sarana untuk memajukan kebudayaan Minangkabau melalui alek nagari. Silek tidak hanya sekedar kegiatan, melainkan tradisi turun temurun yang mengandung nilai budaya," ujarnya. (rb)