Dibedah Polisi, Samsir dan Lima Anaknya Kini Tinggal Dirumah Layak Huni

Dibedah Polisi, Samsir dan Lima Anaknya Kini Tinggal Dirumah Layak Huni

Polsek Bangko sedang membedah rumah Samsir

BAGANSIAPIAPI - Samsir dan keluarga sekarang bisa hidup dengan nyaman di rumah barunya. Rumahnya yang dulu berdinding kayu lapuk, telah dibedah oleh polisi dan kini layak untuk dihuni.

" Saya sangat bersyukur atas bedah rumah yang dilakukan Polsek Bangko. Kami sangat berterimakasih pak, ini anugrah yang sangat besar yang Allah berikan kepada kami melalui pak Kapolsek," kata Samsir yang tak kuasa membendung air matanya.

Samsir sendiri bertempat tinggal di jalan Al Kautsar, Kelurahan Bagan Punak, Kecamatan Bangko, Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Pria berusia 54 tahun ini, sudah berusaha keras untuk membangun rumah yang layak untuk istri dan kelima anaknya.

Namun karena penyakit bawaannya sejak lahir yang bisa kambuh kapan saja, sehingga ia tidak dapat bekerja secara normal. Sehingga, rumah hunian yang ditempatinya jauh dari layak dan sering tergenang air ketika terjadi banjir.

Melalui Kapolsek Bangko, FKPM dan Ikatan Pemuda Gotong Royong, akhirnya rumah Samsir dibedah. Butuh 3 hari untuk membedah rumah Samsir agar bisa berdiri kokoh, aman, dan yang paling penting layak huni.

Kapolsek Bangko, Kompol Sasli Rais SH mengatakan, bedah rumah ini merupakan sebagai salah satu bentuk perhatian serta kepedulian Polri khususnya Polsek Bangko kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan.

Dia mengungkapkan, selain tidak layak ditempati, jika terjadi banjir, air menggenangi rumahnya sehingga seluruh keluarga Samsir terpaksa mengungsi ke rumah tetangga untuk numpang tidur.

"Beberapa waktu lalu kita juga telah memberikan bantuan berupa sembako, sementara untuk bedah rumah baru bisa kita laksanakan hari ini, kondisinya memang sangat memprihatinkan," kata Kapolsek, Selasa (16/7/2019).

Dia berharap, program ini dapat dilaksanakan secara berkesinambungan demi membantu masyarakat miskin. Apalagi, kata Sasli, pasangan Samsir dan Sulastri ini memiliki lima dimana kelima anaknya baik putra maupun putri tidak bisa bersekolah disebabkan tidak adanya biaya. Sementara sang istri, hanya bisa bekerja sebagai buruh cuci di rumah-rumah warga sekitar yang merasa iba dan senantiasa membantu keluarganya (Amrial)