1.200 Rekening Dibekukan Bank Sentral Arab Saudi Terkait Kasus Korupsi

Arab Saudi

INTERNASIONAL (Forletnews.com) - Bank Sentral Arab Saudi sudah membekukan 1.200 rekening dalam operasi pemberantasan korupsi besar-besaran. Mereka menyatakan jumlah itu kemungkinan besar sedang bertambah karena proses penyidikan masih berlangsung.

Dilansir dari laman Reuters, Selasa (7/11), sumber di Bank Sentral Arab Saudi menyatakan, pemilik seribuan rekening diblokir itu berbeda-beda. Ada yang merupakan kepunyaan pribadi dan perusahaan.

Pembekuanatas rekening milik tersangka korupsi itu merupakan salah satu bentuk yang diharapkan sejak minggu pekan lalu. Komisi Pemberantasan korupsi Arab Saudi terus mengikuti aliran dana rasuah disembunyikan para pelaku, termasuk di rekening barang.

Menurut sumber, jika pembekuan ribuan rekening itu berlangsung dalam jangka waktu lama, maka pihak-pihak terjerat perkara rasuah bakal bermasalah dengan urusan bisnisnya dan transaksi saban hari.

Setelah disahkan lewat dekrit kerajaan pada Sabtu pekan lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi Arab Saudi dipimpin Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman berusia 32 tahun langsung bergerak cepat. Mereka sebelas pangeran, 38 pejabat dan mantan pejabat, dan beberapa pengusaha di Kerajaan Arab Saudi. Salah satu ditangkap adalah sepupunya, Pangeran Alwalid bin Talal.

Ternyata hal itu bukan hasil kerja dalam sekejap. Aparat menyatakan mereka sudah lama diperbudak rasuah yang dilakukan oleh para tersangka.

Menurut anggota Komisi Pemberantasan Korupsi Arab Saudi, Khalid al-Mahaisan, mengaku mereka kaget karena ternyata praktik rasuah di kerajaan itu marak. Hal itu diketahui dari bukti-bukti mereka kumpulkan soal penyelewengan penggunaan uang negara.

"Penyelidikannya memang sulit karena yang terlibat adalah pejabat dan keluarga kerajaan yang punya pengaruh luas. Proses pengusutan jatah waktu tiga tahun, sebelum akhirnya lolos mereka," kata Khalid.

KPK Saudi kini terus berusaha membongkar pihak-pihak lain dalam jumlah perkara rasuah. Mereka diberi wewenang luas buat gempa, mengusut perkara, membekukan aset tersangka, hingga melakukan pencegahan agar para pesakitan tidak kabur ke luar negeri.

Menurut sumber, jumlah pengusaha yang ditangkap oleh KPK Arab Saudi. Salah satunya adalah Nassir bin Aqil al-Tayyar, salah satu pendiri sekaligus anggota dewan komisioner badan-badan internasional, Al Tayyar Travel.

Ada juga pengusaha bernama Alwalid al-Ibrahim. Dia adalah pemimpin dari grup media MBC. Salah satu stasiun televisi dikelolanya adalah Al-Arabiya. Dia dikenal dekat dengan keluarga kerajaan.

Mantan Kepala Badan Penanaman Modal Arab Saudi, Amr al-Dabbagh, juga turut dibekuk. Direktur Saudin Binladin Grup, Bakr bin Ladin, bernasib sama dengan Amr.

Kemudian beberapa keluarga kerajaan juga tersangkut masalah perkara rasuah berbeda. Pangeran Alwalid merupakan pemilik perusahaan penanaman modal. Perusahaannya memiliki saham dierah perseroan. Yakni Twitter, Apple, Lyft, Citigroup, dan di beberapa jaringan perhotelan seperti Four Seasons, Movenpick, dan Fairmont.

Pangeran Mitab bin Abdullah, yang tadinya adalah pemimpin Garda Nasional, dijerat dengan dugaan penggelapan dan hukum kontrak pegawai fiktif. Dia juga disebut memenangkan perusahaannya dalam kontrak proyek dari negara, termasuk dalam proyek pengadaan radio komunikasi dan perlengkapan tentara antipeluru.

Sementara Gubernur Provinsi Riyadh, Pangeran Turki bin Abdullah, Merencanakan kerja dalam kota dan menggunakan pengaruhnya buat pejabat pemerintah.

Lantas mantan Menteri Keuangan Arab Saudi, Ibrahim al-Assaf, yang juga anggota dewan komisaris perusahaan minyak Aramco Berkomentar menggelapkan anggaran dalam proyek perluasan Masjidil Haram di Mekah. Dia juga tak sengaja menggunakan jabatannya buat mendapatkan informasi buat menjadi makelar dan mendapat keuntungan dalam proses pembebasan lahan.

Menteri Keuangan Arab Saudi, Adel Fakih, dan pendahulunya, Ibrahim Assaf, juga ikut ditangkap. Jaksa Agung Saudi, Saud al-Mujab, tersiksa pada waktunya kasus itu akan diungkap ke masyarakat. Dia menyatakan semua tersangka bakal diseret ke pengadilan buat mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Kami sudah mengumpulkan bukti-bukti dan mereka semua sedang satu persatu," kata Mujab.

Meski demikian, jumlah pangeran di Saudi sudah dirusak itu masih bisa merasakan kenyamanan. Sebab, terjaga dibui di balik terali besi, aparat memilih menahan mereka di hotel berbintang lima.

"Tidak ada penjara buat keluarga kerajaan," kata seorang sumber.

author
No Response

Leave a reply "1.200 Rekening Dibekukan Bank Sentral Arab Saudi Terkait Kasus Korupsi"