ULTAH KAMPAR KE 66 TAHUN, 66 TAHUN KAMPAR KIRI HULU DIJAJAH

Masyarakat yang menggunakan sampan sebagai alat transportasi

Foto : riaubertuah.co| anak sekolah menggunakan sampan sebagai alat transportasi saat banjir

KAMPAR (Riaubertuah.co)– Menggeliatnya pembangunan Kampar dalam segala sektor sepertinya belum sepenuhnya menyentuh daerah hulu dikabupaten Kampar ini. Namanya selalu didengar dan populer dimedia massa saat ketertinggalan menerpa salah satu kecamatan dibahagian kiri kabupaten Kampar ini diangkat oleh awak media. Apalagi kalau musim hujan menerpa, 24 desa dikecamatan Kampar Kiri Hulu selalu menjadi langganan banjir dan tanah longsor yang mem­buat daerah yang termasuk ka­wasan hutan lindung Rimbang Baling ini selalu menjadi daerah rawan pangan, karena terpu­tusnya akses infrastruktur dis­ana.

Minimnya Akses Jalan

Selain jauh dari pusat Kabu­paten Kampar yang berbatasan dengan Provinsi tetangga Su­matera Barat, daerah ini masih menjadi daerah yang jauh dari manisnya pembangunan.Mis­alnya dalam segi infrastruk­tur jalan, saat ini Kampar Kiri Hulu yang terdiri dari 24 desa 8 diantaranya sampai saat ini belum memiliki akses jalan ka­rena terhambat oleh Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) provinsi riau yang hingga kini belum juga kunjung disahkan. Tidak hanya delapan desa yang terisolir, 16 desa lainnya adalah wilayah rawan pangan kalau banjir dan longsor melanda.

Menurut data yang dihim­pun oleh Riau Khatulistiwa dari berbagai sumber, panjang jalan yang dilewati dari lipat­kain hingga desa Pangkalan Ka­pas Kampar Kiri Hulu berkisar sekitar 92 kilometer, dari total 92 kilometer tersebut, 57 KM diantaranya adalah jalan yang tidak layak untuk dilalui. Ini berdasarkan keadaan jalan yang tidak diaspal, berlubang, kemir­ingan yang tidak stabil, ditam­bah lagi jalan yang licin serta berkontur curam.Inilah yang mengakibatkan jika musim hu­jan jalan akan berlumpur dan longsor sementara jika kemarau jalan membatu dan tertutupi ka­but jalan.

Dan hancurnya akses ja­lan inilah yang menciptakan masalah abadi di KamparKiri Hulu, yaitu rawan pangan. Kondisi rawan pangan ini se­benarnya adalah efek domino dari banjir dan longsor yang terjadi di Kampar Kiri Hulu. Bencana rutin ini sebenarnya bisa diprediksi dan diantisipasi dengan bijak mengingat benca­na ini adalah bencana tahunan yang terjadi saat musim hujan tiba.Namun lagi-lagi pemerin­tah gagap menanggapi musibah tahunan ini.

Listrik Dan Jaringan Ko­munikasipun Seperti Mim­pi

Setali matauang, minimnya infrastruktur jalan diperburuk lagi dengan tidak adanya akses listrik dan jaringan komunikasi yang hampir dirasakan lebih dari 20 desa disana. Saat malam menjelang kondisi gelap gu­lita adalah pemandangan yang lumrah dirasakan oleh warga disana.

Berbeda dengan daerah lain­nya di Kampar, Keadaan ini su­dah dirasakan warga semenjak dulu kala, berharap mendapat­kan sarana penerangan yang layak sepertinya hanya mimpi dan khayalan belaka.Wajar jika kebanyakan warga asli dari Kampar Kiri Hulu ini lebih suka tinggal di Lipat kain (Kampar Ki­ri) jika dibandingkan terkurung dalam rimba belantara yang ge­lap tanpa adanya sarana yang layak disana.

Begitu juga halnya dengan jaringan komunikasi seperti signal dan TV, belasan desa disana seperti hidup sebelum tahun 80an, dimana saat itu be­lum adanya jaringan komuni­kasi seperti HP dan siaran TV Swasta seperti RCTI dan SCTV, bukannya tak sanggup beli, warga tidak diberikan kesem­patan untuk menikmati akses komunikasi seperti kebanya­kan orang, sehingga wajar jika sekitar 11.547 penduduk yang menghuni dataran tinggi dihu­lu kabupaten Kampar ini tidak mengerti perkembangan du­nia serta isu-isu hangat yang se­dang diperbincangkan.

Sarana Pendidikan Dan Kesehatan Yang Tak Pernah Layak

Disamping listrik ternyata ada yang lebih memprihatinkan untuk generasi muda Kampar Kiri Hulu. Yaitu penyebaran tenaga pendidik (Guru,red) yang tidak merata, disamping tidak merata dengan jumlah populasi 11 ribu orang lebih jumlah sekolah SD hanya 28 se­kolah, SMP 8 Sekolah dan SLTA hanya 1 sekolah saja yang terse­bar di 24 desa seKamparKiri Hulu.

Kondisi ini diperparah lagi dengan jumlah guru yang hanya berkisar hanya 133 guru yang tersebar dari 37 sekolah dari segala tingkat sekolah, kondisi ini sangat ironis, yang menyebabkan mutu pendidi­kan terhadap regenerasi anak bangsa di wilayah hulu ini san­gatlah rendah.Selain penataan dan pendistribusian guru, pem­bangunan sarana pra-sarana dibidang pendidikan juga ‘am­buradul’, meski disegi anggaran dunia pendidikan sangat dip­rioritas, namun realisasi tidak sesuai harapan masyarakat. Demikian diungkapkan salah satu tokoh pemuda Gema, Yur­nalis, sabtu  (06/2/16) lalu ke­tika berbincang-bincang dengan riaubertuah.co didesa Gema.

Menurutnya penyebaran guru yang tidak merata meru­pakan masalah klasik yang tak kunjung usai, ia mengakui masalah politis menjadi faktor penyebab banyaknya guru yang menumpuk di perkotaan.

rico febputra

Foto : riaubertuah.co| Rico Febputra SH, Pimpinan umum Khatulistiwa Group

Menurutnya, tidak sedikit guru yang bertugas di pedesaan (Kampar Kiri Hulu) mengajukan surat pindah ke Bangkinang atau daerah lainnya yang lebih bagus dari desa-desa di Kam­par Kiri Hulu. Apalagi, kata yur­nalis, setiap guru yang pindah sudah memegang surat reko­mendasi.

“Sehingga wajar daerah terpencil adalah momok yang menakutkan bagi guru-guru, alasannya sangat klasik, yaitu tidak ada akses” tutur Yurnalis.

Disamping pendidikan ada­lagi persoalan rumit yang di­hadapi oleh masyarakat disana, yaitu minimnya sarana dan prasarana kesehatan, berdasar­kan Kampar dalam angka tahun 2013, untuk seluruh wilayah Kampar Kiri Hulu hanya 2 Puskesmas yang beroperasi, yaitu diwilayah Gema dan Batu Sasak, kedua puskesmas ini hanya terdapat 3 orang dokter peraktek.

Padahal berdasarkan keten­tuan rasio World Health Or­ganization. Sesuai ketentuan, seharusnya ada 1 orang dokter umum per 2 ribu penduduk. Dan jika dibandingkan dengan kondisi Kampar Kiri Hulu saat ini, seharusnya untuk wilayah dan jumlah penduduk sebesar itu minimal Kampar Kiri Hulu butuh 6 orang dokter umum.

Minimnya sarana kesehatan turut dirasakan oleh masyarakat tempatan, ini dibuktikan den­gan jauhnya rentang kendali antar satu desa dengan desa lainnya, untuk Kampar Kiri Hulu hanya terdapat 8 puskes­mas pembantu yang terletak dibeberapa desa dari 24 desa disana.

Pemda Kampar Harus Prioritaskan Kampar Kiri Hulu

Menanggapi permasalahan yang selama ini dihadapi oleh Kampar Kiri Hulu, Ahmad Lu­tfi salah seorang tokoh pemuda Kampar Kiri Hulu yang juga sebagai ketua Forum Aspirasi Masyarakat Kampar Kiri Hulu (Fraksi Hulu) berharap di HUT Kampar yang 66 tahun ini Kam­par lebih memberikan perhatian kepada Kampar Kiri Hulu, ka­rena menurutnya Kampar Kiri Hulu juga bahagian dari Kam­par, yang sepantasnya menda­patkan perlakuan yang sama.

“66 tahun lebih kami baha­gian dari pada Kampar, tapi rasanya waktu 66 tahun adalah waktu yang terlalu panjang bagi kami bisa mengenyam pem­erataan pembangunan seperti daerah lainnya di Kampar.Kami hanya berharap tahun 2016 ini Pemkab Kampar lebih peka terhadap kondisi kami yang saban tahun tetap juga menjadi daerah yang terisolir” papar Lutfi kepada Riaubertuah.co  (06/2/2016).

Lutfi menambahkan, kondisi Kampar Kiri Hulu kekinian ada­lah cerminan upaya pemimpin terdahulu dalam membangun Kampar, selama ini menurutnya Kampar Kiri Hulu sengaja ditinggalkan, dan sekarang sudah seharusnya Pemda Kampar untuk sementa­ra fokus terhadap Kampar Kiri Hulu.

“ Saya hanya berharap, di HUT Kampar yang diseleng­garakan hari ini, pemda Kampar bisa lebih peduli kepada Kam­par Kiri Hulu, jika tidak biarkan Rantau Kampar Kiri dan Siak Hulu (GUSDAR) untuk mekar” tutupnya.

Laporan : (Rico Febputra)

 

Tags:
author
No Response

Leave a reply "ULTAH KAMPAR KE 66 TAHUN, 66 TAHUN KAMPAR KIRI HULU DIJAJAH"